Kamis, 13 Desember 2018

Pola Asuh dan Dampaknya Terhadap Anak


       

Pola Asuh yang Dapat Diterapkan Pada Anak


          Orang tua merupakan pengajar utama untuk seorang anak-anaknya, maka dari itu orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak baik fisik dan psikisnya. Orang tua dapat meningkatkan kualitas hidup anak, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik secara fisik, emosional, mental maupun sosial dan memiliki inteligensi majemuk sesuai dengan potensi genetiknya (Bunda, Putri, & Umari, n.d.).
            Optimalisasi perkembangan anak tergantung pada bagaimana pola pengasuhan yang diberikan oleh orang tuanya. Pola asuh orang tua merupakan
interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan proses pengasuhan, artinya orangtua memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak, mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat (Masni, 2017).
            Menurut Hurlock (1992) dalam (Bunda et al., n.d.) secara umum ada tiga macam pola asuh orangtua terhadap anak yaitu:

1  1. Pola asuh demokratis
      Pola asuh demokratis adalah cara mengasuh anak dengan menghargai kebebasan anak namun tetap ada bimbingan dari orang tua. Dalam hal ini anak diberikan kebebasan berpendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melanggar aturan yang dibuat secara bersama serta bertanggung jawab atas segala tindakannya. Anak- anak dengan pola asuh ini akan cenderung mandiri, memiliki hubungan positif dengan orang lain, jujur dan percaya diri.
        Menurut Zahara Idris dan Lisma Jamal (1992: 87) dalam (Widowati,2013).  ciri-ciri pola asuh demokratis adalah sebagai berikut :
  1.  Membuat peraturan secara bersama.
  2.  Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertahankan dan yang tidak baik agar di tinggalkan
  3.  Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian
  4. Dapat menciptakan keharmonisan dalam keluarga
  5. Dapat menciptakan suasana komunikatif antara orang tua dan anak serta sesama keluarga.

22. Pola asuh permisif
       Pola asuh permisif adala cara pengasuhan anak yang dilakukan dengan cara anak diberikan kebebasan untuk melakukan apapun. Orangtua dengan pola pengasuhan ini cendrung kurang peduli terhadap anak. biasanya pengasuhan seperti ini akan membuat anak menjadi tidak mandiri, nakal, anak lebih tergantung pada orang lain, sulit menerima pandangan orang lain dan bersifat kekanak-kanakan secara emosional. Namun apabila anak memanfaatkan kebebasan yang diberikan orang tua dengan tanggung jawab penuh maka anak akan menjadi mandiri, kreatif, inisiatif dan mampu  mengaktualisasikan diri.
           Menurut Zahara Idris dan Lisma Jamal (1992: 89) dalam (Widowati, 2013) yang termasuk pola permisif adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan kebebasan terhadap anak tanpa memantau perilaku anak.
  2.  Mendidik anak acuh tak acuh, bersikap pasif dan masa bodoh.
  3.  Mengutanakan kebutuhan material saja.  
  4.  Membiarkan saja apa yang dilakukan anak (terlalu memberikan kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada peraturan-peraturan dan norma-norma yang digariskan orang tua).
  5.  Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga.
       3. Pola asuh otoriter
       Pola asuh otoriter adalah cara mengasuh anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang harus ditaati oleh anak tanpa berdiskusi dengan anak. jadi dalam pola asuh ini orang tua yang mengatur segalanya dan anak harus menaati dan mengikuti aturannya apabila anak tidak mengikuti aturannya maka akan dikenakan hukuman atau sanksi. Anak dengan pola pengasuhan otoriter akan menjadi kurang inisiatif, tidak percaya diri, merasa takut, pencemas, dan anak juga bisa memberontak. Namun anak dengan pola asuh ini cenderung akan menjadi disiplin.
        Adapun ciri-ciri dari pola asuh otoriter menurut Zahara Idris dan Lisma Jamal (1992: 88) dalam (Widowati, 2013) adalah sebagai berikut :
  1. Anak harus mematuhi peraturan orang tua
  2.  Orang tua menghukum anak apabila melakukan kesalahan.
  3. Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan kepada anak. d) Anak akan dianggap pembangkang apabila terdapat perbedaan pendapat.
  4. Memaksa anak untuk berperilaku disiplin.
  5. Tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak.          
            Dari ketiga jenis pola asuh diatas terdapat perbedaan peraturan yang dibuat. Maka dari itu sebagai orang tua harus memberikan pola asuh yang paling baik untuk anak, agar anak dapat berkembang secara optimal. Dengan pengasuhan yang baik maka anak dapat mengembangkan potensinya, memiliki kepribadian yang baik, sehingga dapat bermanfaat di dalam kehidupannya.

Daftar Pustaka
Bunda, R., Putri, L., & Umari, T. (n.d.). Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Sosial ( Siswa Kelas Vii Smp Negeri 8 Pekanbaru ) Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku, 1–9.
Masni, H. (2017). Peran Pola Asuh Demokratis Orangtua Terhadap Pengembangan Potensi Diri Dan Kreativitas Siswa. Jurnal Ilmiah Dikdaya, 6(1), 58–74.
Widowati, D. (2013). Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua, Motivasi Belajar, Kedewasaan Dan Kedisiplinan Siswa Dengan Prestasi Belajar Sosiologi Siswa Kelas Xi Sma Negeri 1 Sidoharjo Wonogiri, 55–60.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar