Pola Asuh yang Dapat Diterapkan Pada Anak
Orang tua merupakan pengajar utama untuk seorang anak-anaknya, maka dari itu orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak baik fisik dan psikisnya. Orang tua dapat meningkatkan kualitas hidup anak, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik secara fisik, emosional, mental maupun sosial dan memiliki inteligensi majemuk sesuai dengan potensi genetiknya (Bunda, Putri, & Umari, n.d.).
Optimalisasi perkembangan anak
tergantung pada bagaimana pola pengasuhan yang diberikan oleh orang tuanya.
Pola asuh orang tua merupakan
interaksi
antara anak dan orang tua selama mengadakan proses pengasuhan, artinya orangtua
memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak, mendidik,
membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan
sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat (Masni, 2017).
Menurut Hurlock (1992) dalam (Bunda et al., n.d.)
secara umum ada tiga macam pola asuh orangtua terhadap anak yaitu:
1 1. Pola
asuh demokratis
Pola
asuh demokratis adalah cara mengasuh anak dengan menghargai kebebasan anak
namun tetap ada bimbingan dari orang tua. Dalam hal ini anak diberikan
kebebasan berpendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melanggar
aturan yang dibuat secara bersama
serta bertanggung jawab atas segala tindakannya. Anak- anak dengan pola asuh
ini akan cenderung mandiri, memiliki hubungan positif dengan orang lain, jujur
dan percaya diri.
Menurut
Zahara Idris dan Lisma Jamal (1992: 87) dalam (Widowati,2013). ciri-ciri pola asuh demokratis adalah sebagai
berikut :
- Membuat peraturan secara bersama.
- Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertahankan dan yang tidak baik agar di tinggalkan
- Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian
- Dapat menciptakan keharmonisan dalam keluarga
- Dapat menciptakan suasana komunikatif antara orang tua dan anak serta sesama keluarga.
22. Pola
asuh permisif
Pola
asuh permisif adala cara pengasuhan anak yang dilakukan dengan cara anak
diberikan kebebasan untuk melakukan apapun. Orangtua dengan pola pengasuhan ini
cendrung kurang peduli terhadap anak.
biasanya pengasuhan seperti ini akan membuat anak menjadi tidak mandiri, nakal, anak lebih
tergantung pada orang lain, sulit menerima pandangan orang lain dan bersifat
kekanak-kanakan secara emosional.
Namun apabila anak memanfaatkan kebebasan yang diberikan orang tua dengan
tanggung jawab penuh maka anak akan menjadi mandiri, kreatif, inisiatif dan
mampu mengaktualisasikan diri.
Menurut
Zahara Idris dan Lisma Jamal (1992: 89) dalam (Widowati, 2013)
yang termasuk pola permisif adalah sebagai berikut :
- Memberikan kebebasan terhadap anak tanpa memantau perilaku anak.
- Mendidik anak acuh tak acuh, bersikap pasif dan masa bodoh.
- Mengutanakan kebutuhan material saja.
- Membiarkan saja apa yang dilakukan anak (terlalu memberikan kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada peraturan-peraturan dan norma-norma yang digariskan orang tua).
- Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga.
3. Pola
asuh otoriter
Pola
asuh otoriter adalah cara mengasuh anak yang dilakukan orang tua dengan
menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang harus ditaati oleh
anak tanpa berdiskusi dengan anak. jadi dalam pola asuh ini orang tua yang
mengatur segalanya dan anak harus menaati dan mengikuti aturannya apabila anak
tidak mengikuti aturannya maka akan dikenakan hukuman atau sanksi. Anak dengan pola pengasuhan otoriter akan menjadi
kurang inisiatif, tidak percaya diri, merasa takut, pencemas, dan anak juga
bisa memberontak. Namun anak dengan pola asuh ini cenderung akan menjadi
disiplin.
Adapun
ciri-ciri dari pola asuh otoriter menurut Zahara Idris dan Lisma Jamal (1992:
88) dalam (Widowati, 2013)
adalah sebagai berikut :
- Anak harus mematuhi peraturan orang tua
- Orang tua menghukum anak apabila melakukan kesalahan.
- Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan kepada anak. d) Anak akan dianggap pembangkang apabila terdapat perbedaan pendapat.
- Memaksa anak untuk berperilaku disiplin.
- Tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak.
Dari ketiga jenis pola asuh diatas
terdapat perbedaan peraturan yang dibuat. Maka dari itu sebagai orang tua harus
memberikan pola asuh yang paling baik untuk anak, agar anak dapat berkembang
secara optimal. Dengan pengasuhan yang baik maka anak dapat mengembangkan
potensinya, memiliki kepribadian yang baik, sehingga dapat bermanfaat di dalam
kehidupannya.
Daftar Pustaka
Bunda, R., Putri, L., & Umari, T. (n.d.). Pengaruh Pola
Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Sosial ( Siswa Kelas Vii Smp Negeri 8
Pekanbaru ) Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku, 1–9.
Masni, H. (2017). Peran Pola Asuh Demokratis Orangtua
Terhadap Pengembangan Potensi Diri Dan Kreativitas Siswa. Jurnal Ilmiah
Dikdaya, 6(1), 58–74.
Widowati, D. (2013). Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua,
Motivasi Belajar, Kedewasaan Dan Kedisiplinan Siswa Dengan Prestasi Belajar
Sosiologi Siswa Kelas Xi Sma Negeri 1 Sidoharjo Wonogiri, 55–60.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar